Atmospheric Marketing

penggunaan aroma di mal untuk memicu memori dan keinginan belanja

Atmospheric Marketing
I

Pernahkah kita berjalan-jalan di mal dengan niat awal yang sangat mulia: cuma mau jalan santai alias window shopping? Dompet aman di saku. Kartu kredit tenang di dalam tas. Kita merasa punya kendali penuh atas diri kita. Namun, tiba-tiba kita melewati sebuah toko roti. Aroma mentega panggang campur karamel menyapa hidung kita. Atau mungkin, aroma kopi yang baru diseduh dari kedai di sudut lantai dasar. Tiba-tiba saja, tanpa kita sadari, langkah kaki kita berbelok. Kita mengantre. Dan tahu-tahu, kita sudah menenteng kantong belanjaan sambil bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa saya beli ini ya?"

Tenang, teman-teman. Kita tidak sedang dihipnotis pakai ilmu gaib. Kita tidak lemah iman, apalagi boros tanpa alasan. Apa yang baru saja kita alami adalah sebuah skenario yang sudah dirancang dengan sangat brilian. Kita baru saja masuk ke dalam perangkap yang tak kasat mata.

II

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu, jauh sebelum ada mal atau kedai kopi kekinian. Sebagai manusia, kita mewarisi perangkat keras biologis dari nenek moyang kita para hunter-gatherer (pemburu-pengumpul). Di alam liar, penciuman bukan sekadar soal wangi atau bau. Penciuman adalah alat pertahanan hidup yang paling utama. Aroma buah yang manis menandakan kalori dan kehidupan. Bau daging yang busuk atau asap api menandakan bahaya dan kematian.

Insting purba inilah yang membuat hidung kita selalu siaga 24 jam sehari. Penciuman adalah satu-satunya indra yang tidak pernah benar-benar tidur. Nah, di zaman modern ini, hutan belantara itu sudah berganti wujud. Hutan itu kini bernama pusat perbelanjaan. Dan para predator serta sumber makanan di masa lalu, kini telah berevolusi menjadi deretan toko yang berlomba-lomba memperebutkan satu hal: perhatian dan uang kita.

III

Di sinilah dunia bisnis dan psikologi berpelukan erat. Mereka melahirkan sebuah taktik yang bernama atmospheric marketing. Ini adalah seni memanipulasi ruang untuk memicu respons emosional. Visual yang bagus dan musik yang pas memang penting. Tapi, para ahli pemasaran sadar betul bahwa mata kita sudah kelelahan melihat ribuan iklan setiap hari. Telinga kita bisa kita tutup dengan earphone. Tapi hidung? Kita tidak mungkin berhenti bernapas.

Merek-merek besar rela membayar miliaran rupiah kepada perusahaan pembuat aroma (scent branding) untuk meracik wangi yang spesifik. Wangi kayu cedar di toko baju pria untuk memunculkan kesan maskulin dan mapan. Wangi vanilla dan bedak bayi di lorong pakaian anak agar kita merasa hangat dan bernostalgia. Namun, ini memunculkan sebuah pertanyaan besar. Mengapa hanya dengan mencium aroma tertentu, pertahanan rasional dan rencana keuangan kita bisa runtuh begitu saja? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tengkorak kepala kita?

IV

Bersiaplah, teman-teman, karena di sinilah sains memberikan jawaban yang memukau. Mari kita lihat anatomi otak kita. Saat kita melihat sebuah sepatu diskon atau mendengar lagu di mal, informasi itu harus melewati "pos satpam" di otak yang bernama thalamus. Pos satpam ini bertugas menganalisis secara logis. Ia akan berpikir, "Oh, itu sepatu diskon, tapi kamu kan masih punya sepatu di rumah. Nggak usah beli."

Tapi, aroma bekerja dengan aturan main yang sama sekali berbeda. Molekul bau yang masuk ke hidung kita ditangkap oleh olfactory bulb (saraf penciuman). Hebatnya, jalur ini sama sekali tidak melewati thalamus. Ia punya jalan tol VIP yang langsung meluncur ke dua area paling purba di otak kita: amygdala dan hippocampus.

Amygdala adalah pusat emosi kita. Sedangkan hippocampus adalah brankas memori kita. Itulah sebabnya, aroma cinnamon roll atau kopi tadi tidak diproses secara logis. Wangi itu langsung menabrak kenangan masa kecil kita. Ia memicu perasaan nyaman, aman, dan bahagia. Logika kita dilewati (di-bypass). Otak kita langsung melepaskan dopamin, hormon kebahagiaan. Kita tiba-tiba merasa lapar, ingin dimanja, dan merasa pantas untuk menghadiahi diri sendiri dengan membeli produk tersebut. Ini bukan lagi soal lapar perut, ini soal lapar emosi. Sains menyebutnya Proustian memory effect.

V

Jadi, saat kita mendapati diri kita tergiur oleh wangi-wangian di mal, mari tersenyum dan berdamai dengan diri sendiri. Itu bukan berarti kita tidak punya self-control. Itu adalah bukti bahwa sistem biologi otak kita bekerja dengan sangat sempurna, persis seperti yang alam semesta rancang. Hanya saja, kali ini biologi kita sedang "diretas" oleh sistem kapitalisme.

Sekarang, karena kita sudah belajar dan tahu rahasia di balik trik atmospheric marketing ini, kita punya sebuah kekuatan baru. Berpikir kritis dimulai dari kesadaran. Lain kali, saat wangi mentega panggang itu merayu hidung kita dan tangan kita mulai merogoh dompet, tarik napas dalam-dalam. Nikmati saja aromanya secara gratis. Lalu, ajak otak logis kita berbicara sejenak, "Ah, saya tahu permainan ini. Nice try, amygdala. Nice try."

Kita bisa tetap menikmati indahnya berjalan-jalan di mal, sambil tetap menjaga agar saldo tabungan kita tidak ikut menguap bersama aroma vanila di udara.